Beliau memandang taman yg terbengkalai tak teratur itu dengan mata penuh kesedihan. Angin yg dengan genitny menari bersama ilalang, membawa partikel” kenangan melintasi mata beliau yg kebasahan. “Kelilipan” elaknya, kembali menatap padang ilalang yg menyita memorinya. Menculiknya kembali ke masa lalu. “Tatung (panggilan kakek) dulu waktu bapak masih kecil, bikin wayang dari itu tu de”, [...]
Filed under: coccaine | Leave a Comment »



