*manggut”..

beberapa waktu lalu,, belum lama ini,, salah satu teman saya berbagi cerita mengenai sebagian hidupnya.. sebagian hidupnya yang nyatanya jadi cerita sebagian hidup satu orang lain juga,, dan jadi cerita sebagian hidup orang banyak..

disadari atau tidak,, sebagai mahluk sosial yang cukup berpamor,, orang” disekitarnya menjadi tertarik [kalau dalam bahasa saya; peduli] dengan apa yang terjadi dalam hidupnya,, mereka” ini,, menurut saya,, ingin merasa jadi bagian dari hidupnya,, meski cuma lewat tahu,, tahu ada apa dengan dia,, tahu apa yang terjadi padanya..

makanya saya jadi tidak mengerti saat dia menyatakan dirinya digosipin,, dan jelas tampak terganggu..

penting bangeet.! begitu pendapat saya saat mengetahui pikirannya.. bagi saya,, yang punya pikiran jelek bukan orang” sekitar yang membicarakan persoalanya,, toh mereka cuma peduli. satu,, dua,, mencoba bertanya,, mengklarifikasi,, agar berita yang beredar tidak simpang siur,, karena si A melihat dia begini,, si B mendengar dari si C dia begitu,, tapi yang saya semakin tidak mengerti,, dia malah marah,, merasa kehidupan pribadinya digunjingkan.. lah,, padahal kan sii satu,, dua orang ini cuma ingin tahu yang sebenarnya.. malah supaya berita yang santer tidak semakin meliar..

apa sii susahnya bilang iya kalau memang iya,, dan enggak kalau memang enggak..

angkuh,, sikap itu yang kemudian tercermin darinya..

cerita demi cerita diutarakan,, jujur,, setidaknya begitu bagi saya.. saat mendengar langsung darinya,, saya mencoba mengerti pikirannya,, mengerti tindakannya..

tapi saya malah jadi bingung..

cerita mengenai sebagian hidupnya ini juga merupakan cerita sebagian hidup satu orang lain.. namun cerita satu orang lain ini tidak sejalan dengan cerita yang dituturkannya pada saya.. rasanya ingin bertanya,, ingin mengklarifikasi apa yang saya ketahui dari satu orang lain ini kepadanya.. tapi takut,, nanti disangka ikut campur..

yang ada dalam renungan saya adalah; apa saya yang bodoh,, dengan mudahnya dibohongi,, lah tapi buat apa membohongi saya,, saya kan tidak ada sangkut pautnya,, apa jangan” dia yang dibohongi oleh si satu orang lain itu,, tapi gimana ngasih tahunya,, nanti tersinggung..

jadi saya,, mungkin karena darah jawa yang masih kental mengalir,, cuma manggut”.. mendengarkan dengan seksama,, sedikit menimpali disana-sini,, tersenyum sekedarnya..

tampak tidak baik memang,, seolah” saya membiarkan teman sendiri terjerumus..

meski ada dorongan yang kuat untuk mengomentari,, tapi saya telan.. percaya kalau teman saya yang satu ini cukup dewasa,, dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.. dan kalau pun sampe dia terluka,, toh saya disini untuk merawat memar”nya.. yaa,, itu pun kalau diijinkan..

orang” lain disekitar dia yang kemudian membicarakan persoalannya jadi tampak tak dapat disalahkan,, karena cerita dari sisi dia dengan cerita satu orang lain ini saja sudah berbeda satu sama lain.. rasanya buat saya yang ternyata tahu persoalan dari dua sisi [banyak sisi malah,, jika orang" disekitar mereka dihitung] dan tidak menyelaraskan keduanya juga tampak kurang baik.. kok ngerti,, tapi diam saja.. cuma manggut” sama dia,, dan manggut” juga saat si satu orang lain ini yang cerita..

rasanya sikap saya tidak benar,, tapi kalau saya dengan sok tahu mencoba menyambungkan keduanya,, bilang pada dia cerita dari satu orang lain ini,, dan juga sebaliknya,, sepertinya juga kurang ajar.. tidak pada tempatnya.. tidak pada posisinya..

makanya saya sebagai teman dia,, dan teman satu orang lain ini,, yaa,, bisanya cuma manggut”.. bisanya menepuk bahu,, mendukung semua keputusan yang diambil.. mengerti bahwa saya sebagai orang luar memang tidak pernah benar” bisa melakoni hingga benar” bisa merasakan apa yang dia alami yang kemudian membuat dia mengambil tindakan yang dia lakukan tersebut..

saya kemudian jadi bertanya” dalam hati.. semakin dewasa kenapa malah semakin sulit membedakan hal yang baik dan yang buruk.. padahal satu hal yang menyatakan seorang manusia telah dewasa bukan karena dia sudah baligh,, tapi dengan dia sudah baligh,, dia diharapkan telah dapat membedakan hal yang baik dan yang buruk..

saya ingat sekali dulu waktu masih berseragam putih-hijau [saya bersekolah di SD swasta],, dengan mudahnya saya bilang; mencuri itu dosa,, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan,, dapat nilai A itu bagus karena nanti dibelikan baju baru sama ibu,, mencontek itu tidak baik,, menghormati yang lebih tua itu harus karena sopan dan sopan itu baik..

tapi semakin dewasa,, semakin kompleks,, segala sesuatu tidak pernah benar” baik atau benar” buruk.. jadi ngebingungin..

kalau ada cerita mengenai seorang majikan membunuh sopirnya lantaran telah berselingkuh dengan istrinya.. rasanya tidak ada yang bisa dibenarkan,, tapi juga ssama” kasihan.. kalau mendengar majikan yang sakit hati,, atau sopirnya yang ternyata sangat mencintai istri majikannya tersebut,, rasanya kok tidak dapat disalahkan..

kalau kata Tamii [moral yang dia dapatkan setelah nonton ludruk],, kebenaran itu cuma satu.. bukan milik saya,, bukan milik kamu,, bukan milik dia,, bukan milik si satu orang lain ini,, bukan milik mereka,, bukan milik siapa”.. kebenaran tidak perlu dibenar”kan karena memang sudah benar.. kebenaran tidak dapat dijelek”an karena sudah pada dasarnya benar..

cuma masalah waktu,, kapan kebenaran akan muncul..

jadi saya,, yaa,, cuma bisa manggut”,, mendengarkan dengan seksama,, sedikit menimpali disana-sini,, tersenyum sekedarnya.. turut senang kalau nantinya senang,, turut menghibur kalau nantinya sedih..

sampai kebenaran nampak,, saya cuma bisa manggut”..

4 Responses

  1. makanyaa mungkin dengan diam dan manggut” justru masalahnya bisa mencari penyelesaiannya sendiri..

    lewat mereka yang curhatannya didengarkan,, jadi bisa mendengarkan curhatannya balik lagi,, mantul,, jadi jujur,, jadi berkaca,, dan moga” jadi ngerti..

    mendengarkan mang ternyata lebih sulit daripada berbicara,, bahkan untuk mendengar diri kita sendiri..

    *sotoy.!

    ahaha..

  2. iyaa.. Kalo kata ludruk: kebenaran itu cuma satu dan diberikan ke orang banyak, Kalo bisa dunia masii datar..

  3. yang ada juga jangan nge-judge, tapi nyari conclusion…

    masalahnya kita g bisa nyari simpulan dari suatu masalah apakah bener ato salah kalo hanya mendenger dari satu sisi, ya gak?

    dan yang lebih runyam lagi, siapa yang tau itu bener ato g?

  4. bener2…
    sampe tu ‘kebenaran’ muncul..
    ga ada salahnya jadi “tong sampah..”
    daripada makin runyam..

    ternyata ada juga yg ngerasa koyo ngono..hahaha

Leave a Reply